Artikel
Kajian analisis Pendekatan Pembelajaran :Surface and Deep Approaches to Learning

Kajian analisis Pendekatan Pembelajaran :Surface and Deep Approaches to Learning

Dalam dunia pendidikan, terdapat dua pendekatan utama dalam pembelajaran, yaitu surface approach to learning dan deep approach to learning. Kedua pendekatan ini pertama kali diperkenalkan oleh Marton dan Säljö (1976) dalam penelitian mereka tentang bagaimana mahasiswa memahami bacaan akademik. Pendekatan ini menggambarkan cara siswa berinteraksi dengan materi pembelajaran serta motivasi dan strategi yang mereka gunakan dalam memahami informasi.

Surface Approaches Learning

Surface approach to learning pertama kali diperkenalkan oleh Marton dan Säljö (1976). Pendekatan ini menggambarkan pola belajar di mana siswa hanya berusaha menyerap informasi secara dangkal dengan tujuan utama memenuhi persyaratan akademik, seperti lulus ujian atau mendapatkan nilai tinggi, tanpa benar-benar memahami hubungan mendalam antar konsep. Dalam konteks pendidikan, cara yang dipilih siswa untuk belajar sangat berpengaruh pada tingkat pemahaman mereka terhadap materi serta kemampuan dalam berpikir kritis. Salah satu pendekatan yang umum dalam sistem pendidikan adalah surface approach to learning, yang merupakan metode pembelajaran yang lebih mengutamakan penghafalan informasi tanpa adanya pemahaman yang mendalam.

Pendekatan ini sering muncul dalam sistem pendidikan yang sangat menekankan hasil akhir seperti nilai ujian, ketuntasan kurikulum, dan beban akademik yang tinggi. Namun, banyak penelitian menunjukkan bahwa surface approach memiliki keterbatasan dalam membangun pemahaman konseptual dan keterampilan berpikir tingkat tinggi. Oleh karena itu, penting untuk memahami karakteristik, penyebab, serta dampaknya terhadap kualitas pembelajaran. Menurut Biggs dan Tang (2011), siswa yang menggunakan surface approach cenderung belajar dengan strategi pasif, menghafal informasi, dan kurang mampu menghubungkan materi baru dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki.

Pendekatan ini memiliki beberapa konsekuensi negatif dalam dunia pendidikan, di antaranya: Pertama, Pemahaman Konseptual yang Lemah. Siswa yang menggunakan surface approach cenderung memiliki pemahaman yang terbatas dan tidak mampu menghubungkan konsep satu dengan lainnya. Kedua, Kesulitan dalam Menerapkan Pengetahuan. Karena belajar hanya berfokus pada menghafal, siswa sering kesulitan dalam menerapkan konsep ke dalam konteks nyata atau dalam pemecahan masalah. Ketiga, Kurangnya Keterampilan Berpikir Kritis. Pendekatan ini tidak mendorong siswa untuk berpikir analitis, mengevaluasi informasi, atau mengembangkan argumentasi yang kuat. Keempat, Motivasi Belajar yang Rendah. Siswa yang merasa bahwa belajar hanya sekadar menghafal untuk ujian cenderung kehilangan minat terhadap pembelajaran dalam jangka panjang. Kelima, Hasil Akademik yang Kurang Optimal. Beberapa studi menunjukkan bahwa meskipun surface approach mungkin memberikan hasil akademik yang cukup dalam jangka pendek, siswa dengan pendekatan ini sering mengalami kesulitan dalam menghadapi tantangan akademik yang lebih kompleks (Entwistle & Ramsden, 1983).

Untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, penting bagi pendidik untuk mendorong pergeseran dari surface approach ke deep approach to learning, di mana siswa benar-benar memahami materi dan mampu berpikir kritis. Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, pendidik perlu beralih ke strategi yang mendorong deep learning, di mana siswa tidak hanya sekadar mengingat informasi tetapi juga memahami, menganalisis, dan menerapkannya dalam berbagai konteks. Dengan demikian, siswa akan lebih siap menghadapi tantangan akademik dan profesional di masa depan.

Deep Approaches Learning

Deep approach to learning adalah pendekatan pembelajaran di mana siswa secara aktif berusaha memahami konsep dengan cara menghubungkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki serta mengaplikasikannya dalam situasi nyata. Menurut Biggs dan Tang (2011), pendekatan ini ditandai oleh keterlibatan kognitif yang lebih tinggi, refleksi mendalam, serta keinginan intrinsik untuk belajar. Siswa dengan deep approach tidak hanya menghafal informasi, tetapi juga berusaha memahami “mengapa” dan “bagaimana” suatu konsep bekerja

Surface approach dan deep approach merupakan dua pendekatan utama dalam pembelajaran. Surface approach cenderung mengarah pada pemahaman yang dangkal dan hasil belajar jangka pendek, sementara deep approach menghasilkan pemahaman yang lebih mendalam dan keterampilan berpikir kritis. Oleh karena itu, pendidik perlu mendorong siswa untuk mengembangkan deep approach agar mereka dapat lebih sukses dalam pembelajaran dan kehidupan profesional.

Penulis Dr H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si (Dosen FKIP Universitas Esa Unggul, Ketua Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten, Ketua Litbang Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan Republik Indonesia (IDIP RI), Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Tangerang

Muhammad Soleh Hapudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *