Artikel
Kajian Analisis Kurikulum Deep Learning : Menemukan Makna Dalam Pembelajaran

Kajian Analisis Kurikulum Deep Learning : Menemukan Makna Dalam Pembelajaran

Penulis Dr H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si ( Dosen Universitas Esa Unggul/ Ketua DPW Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten, Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Tangerang, Chairman of Darusslam Foundation

Dalam dunia pendidikan yang terus berkembang, konsep deep learning atau pembelajaran mendalam semakin mendapat perhatian. Hal ini sejalan dengan visi Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M.Pd., Mendikdasmen RI, yang merancang kurikulum baru berbasis deep learning. Kurikulum ini bertujuan untuk membantu siswa tidak hanya menguasai pengetahuan, tetapi juga menemukan makna dalam pembelajaran. Pendekatan ini diharapkan mampu mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan global dengan keterampilan berpikir kritis, analitis, dan kreatif.

Deep learning dalam pendidikan menekankan pada pemahaman yang mendalam dan berkelanjutan terhadap materi. Bukan sekadar hafalan, pendekatan ini mendorong siswa untuk mengaitkan konsep yang dipelajari dengan pengalaman mereka dan situasi nyata di sekitar mereka. Hal ini bertujuan untuk menciptakan pemahaman yang lebih kuat dan bermakna.

Deep learning dalam pendidikan memiliki perbedaan mendasar dibandingkan pembelajaran tradisional yang berfokus pada hafalan dan reproduksi pengetahuan. Dalam bukunya, Deep Learning and Constructivism in Education, Fred D. Davis (2019) mendefinisikan deep learning sebagai proses pembelajaran yang menekankan pemahaman mendalam, di mana siswa mengaitkan informasi baru dengan pengetahuan yang sudah mereka miliki, menciptakan keterkaitan konseptual, dan mampu mengaplikasikannya dalam konteks nyata.

Menurut Paul Ramsden dalam Learning to Teach in Higher Education (1992), deep learning memungkinkan siswa untuk tidak hanya mengingat informasi, tetapi juga memahami dan mengaplikasikannya dalam berbagai konteks. Pembelajaran ini menuntut keterlibatan aktif siswa, di mana mereka belajar berpikir kritis, memecahkan masalah, dan membangun keterkaitan antara teori dan praktik.

Prof. Dr. Abdul Mu’ti berpendapat bahwa pendidikan harus lebih dari sekadar transmisi pengetahuan. Pendidikan seharusnya membantu siswa menemukan makna dan relevansi dalam apa yang mereka pelajari. Filosofi ini sejalan dengan teori constructivism yang dikembangkan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky, yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun melalui interaksi aktif antara siswa dengan lingkungan. Vygotsky juga berpendapat bahwa pembelajaran yang bermakna harus melibatkan kolaborasi dan dialog, di mana siswa dapat berbagi pemahaman dan membangun pengetahuan secara kolektif. Dengan demikian, pendekatan deep learning tidak hanya bertujuan pada hasil akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter dan keterampilan hidup.

Prinsip Utama dalam Kurikulum Deep Learning; Pertama. Pemahaman Konseptual yang Mendalam. Siswa didorong untuk memahami konsep dasar dengan lebih baik dan mengaitkannya dengan konteks nyata. Hal ini berbeda dengan pendekatan pembelajaran yang hanya menekankan pada pencapaian nilai atau hafalan. Dengan pemahaman yang mendalam, siswa mampu menerapkan pengetahuan mereka dalam berbagai situasi. Kedua, Pembelajaran Aktif dan Kolaboratif. Dalam kurikulum ini, siswa aktif dalam proses belajar. Mereka bekerja dalam kelompok untuk mendiskusikan konsep, memecahkan masalah bersama, dan bertukar ide. Pembelajaran kolaboratif ini akan meningkatkan keterampilan komunikasi dan kerja sama, yang sangat dibutuhkan di dunia kerja. Ketiga, Pembelajaran Berbasis Inkuiri Pendekatan ini memotivasi siswa untuk mencari jawaban atas pertanyaan yang mereka ajukan sendiri. Pembelajaran berbasis inkuiri memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi, bereksperimen, dan menemukan solusi secara mandiri, yang pada akhirnya akan memperkuat pemahaman mereka. Keempat, Pembelajaran Kolaboratif
Deep learning mengutamakan kerja sama antar siswa untuk memperluas pemahaman mereka. Barkley et al. dalam Collaborative Learning Techniques (2005) menyatakan bahwa pembelajaran kolaboratif mengajarkan siswa untuk berbagi perspektif, membangun komunikasi, dan memecahkan masalah bersama, yang memperkuat pemahaman mendalam mereka.

Kurikulum deep learning yang digagas oleh Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Pd., menawarkan pendekatan yang relevan dan inovatif untuk meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran. Dengan menekankan pada pemahaman konseptual, pembelajaran berbasis inkuiri, penerapan dalam situasi nyata, pembelajaran kolaboratif, dan penilaian autentik, kurikulum ini bertujuan untuk membentuk siswa yang mampu berpikir kritis, kreatif, dan adaptif.

 

Muhammad Soleh Hapudin

2 thoughts on “Kajian Analisis Kurikulum Deep Learning : Menemukan Makna Dalam Pembelajaran

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *