Pilkada 2024 “Pemimpin Visioner : Membangun Daerah yang Berdaya Saing

Penulis Dr H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si ( Dosen Universitas Esa Unggul, Ketua Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten/ Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indoesia (ICMI) Kota Tangerang,  Chairman of Darussalam Foundation, Litbang Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan Republik Indonesia (IDIP-RI)

Kepemimpinan, dalam konteks manapun, merupakan suatu fenomena yang kompleks dan krusial. Dalam Islam, kepemimpinan tidak hanya sekadar jabatan atau kekuasaan, melainkan amanah yang besar dari Allah SWT. Seorang pemimpin ideal dalam Islam adalah sosok yang tidak hanya cakap dalam memimpin, tetapi juga memiliki kualitas spiritual yang tinggi, serta mampu mewujudkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Rasulullah Muhammad SAW adalah teladan utama dalam kepemimpinan ideal, yang memadukan sifat-sifat mulia, kecerdasan, dan kemampuan untuk menginspirasi umat. Kepemimpinan beliau tidak hanya relevan pada masanya, tetapi juga menjadi panduan abadi bagi pemimpin di era modern.

Pilkada serentak 2024 adalah ajang untuk memilih pemimpin-pemimpin daerah yang mampu membawa perubahan positif. Dinamika politik sering kali diwarnai dengan kompetisi yang tidak sehat, seperti politik uang dan kampanye hitam. Islam mengajarkan bahwa proses pemilihan harus berjalan dengan jujur dan adil, tanpa kecurangan.

Pemimpin visioner adalah sosok yang memiliki pandangan jauh ke depan, mampu merancang strategi jangka panjang, dan membawa kemajuan bagi masyarakat yang dipimpinnya. Dalam Islam, kepemimpinan bukan sekadar jabatan, melainkan amanah yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab.
Pilkada serentak 2024 menjadi momen penting bagi Indonesia dalam menentukan pemimpin-pemimpin daerah yang memiliki visi untuk membangun daerah berdaya saing di tingkat nasional dan global. Perspektif Islam memberikan panduan yang relevan dalam memilih dan menjalankan kepemimpinan visioner melalui nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur’an dan Hadis.

Dalam Islam, Seorang Pemimpin harus menjadikan Allah SWT dan Rasulullah saw, sebagai landasan mengambil segala keputusan yang berkaitan dengan arah kepemimpinan maupun mengatasi segala permasalahan yang dihadapi. Firman Allah SWT :

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat). (QS Annisa: 59)

Islam menekankan bahwa seorang pemimpin harus memiliki visi yang jelas, sesuai dengan prinsip keadilan dan kesejahteraan umat. Pemimpin visioner dalam Islam adalah mereka yang mampu merancang masa depan yang lebih baik tanpa melupakan prinsip syariat dan moralitas.

Islam memandang kepemimpinan sebagai bagian integral dari kehidupan bermasyarakat. Dalam Al-Qur’an dan hadis, terdapat banyak panduan tentang bagaimana seorang pemimpin harus menjalankan tugasnya. Sebagai contoh, dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkannya dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa: 58). Ayat ini menekankan pentingnya keadilan dan tanggung jawab dalam menjalankan kepemimpinan.

Selain itu, Nabi Muhammad SAW juga bersabda:“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menunjukkan bahwa setiap individu yang diberi amanah sebagai pemimpin harus menyadari tanggung jawab besar yang diembannya.

Rasulullah SAW adalah sosok pemimpin yang diutus Allah SWT untuk membawa manusia dari kegelapan menuju cahaya Islam. Dalam perjalanan hidupnya, Rasulullah memimpin masyarakat dengan nilai-nilai keimanan, kasih sayang, dan keadilan. Beliau menjalankan perannya sebagai nabi, kepala negara, panglima perang, dan pembimbing umat dengan sempurna. Sebagaimana firman Allah SWT:“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…” (QS. Al-Ahzab: 21). Ayat ini menegaskan bahwa Rasulullah adalah contoh ideal bagi seluruh umat manusia, termasuk dalam hal kepemimpinan.

Rasulullah SAW adalah contoh teladan seorang pemimpin yang ideal. Beliau memiliki semua karakteristik yang disebutkan di atas. Kepemimpinan beliau berhasil menyatukan umat yang beragam dan membangun peradaban yang maju.

Karakteristik Kepemimpinan Rasulullah SAW; Pertama, Sidiq (Jujur). Kejujuran adalah fondasi utama dalam kepemimpinan Rasulullah SAW. Sebelum diangkat menjadi nabi, beliau telah dikenal dengan julukan Al-Amin (yang dapat dipercaya). Kejujuran beliau menciptakan kepercayaan dari umat sehingga ajarannya mudah diterima. Allah SWT berfirman:“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” (QS. At-Taubah: 119). Kedua, Amanah (Jujur). Seorang pemimpin harus mampu menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh kesadaran bahwa kepemimpinannya adalah amanah dari Allah. Allah SWT Berfirman “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi, dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya (berat), lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh,“(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 72).Rasulullah SAW bersabda “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, Tabligh (Kemampuan Komunikasi). Pemimpin visioner harus mampu menyampaikan visinya kepada masyarakat dengan cara yang jelas dan meyakinkan. Rasulullah SAW selalu menyampaikan ajaran Islam dengan metode komunikasi yang efektif, sehingga ajaran tersebut dapat dipahami dan diterima oleh berbagai lapisan masyarakat. Allah SWT Berfirman : “Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan (apa yang diperintahkan itu) berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari (gangguan) manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.”
(QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 67)

Keempat, Fathanah (memiliki kemampuan secara kogntif). Pemimpin visioner harus memiliki kecerdasan untuk menganalisis situasi dan kebijaksanaan dalam mengambil keputusan strategis. Dalam Perang Khandaq, Rasulullah SAW menunjukkan fathanah dengan menerima usulan Salman Al-Farisi untuk menggali parit sebagai strategi pertahanan, yang akhirnya menyelamatkan umat Islam dari serangan musuh..

 Seorang pemimpin muslim di era globalisasi harus mampu menggabungkan nilai-nilai Islam dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Setidaknya para pemimpin yang visioner adalah pribadi yang memiliki kepribadian (character) yang berdiri tegak di atas prinsip yang kukuh, yang mengandung beberapa nilai utama penulis  menguraikan minimal 5 C antara lain: Credible. Prinsip utama sebelum menerapkan kepemimpinannya, yaitu membangun citra diri sebagai seorang yang bisa dipercaya (credible); Kejujuran adalah pemyelamat di dunia dan di akhirat. ssebaliknya kebohongan akan berdampak  secara luas dan tidak terbatas pada pihak yang dibohongi saja. Allah berfirman : “Seharusnya, mereka memilih) ketaatan (kepada Allah) dan tutur kata yang baik. Apabila perintah (perang) ditetapkan, (mereka tidak menyukainya). Padahal, jika mereka benar (beriman dan taat) kepada Allah, niscaya yang demikian itu lebih baik bagi mereka.” (QS Muhammad:21).  Sabda Rasulullah saw : Sesungguhnya jujur menunjukkan kepada kebajikan dan kebajikan menunjukkan jalan ke surga. Sesungguhnya orang yang jujur akan selalu melakukan kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur….  (HR Bukhari 6094). Confidence. Prinsip yang terlahir dari kepribadian amanah adalah percaya diri (confidence), karena apa yang diyakininya adalah benar. mereka tidak pernah ragu. Muslim tidak pernah berhenti melakukan evaluasi terhadap kegagalan  untuk kemudian bangkit lebih confdence penuh dengan kepercayaan diri. Allah SWT berfirman” Janganlah kamu (merasa) lemah dan jangan (pula) bersedih hati, padahal kamu paling tinggi (derajatnya) jika kamu orang-orang mukmin (QS Ali Imran 139).  Consince. Seorang pemimpin dalam islam harusslah memiliki kesadaran terhadap nilai dan prinsip-prinsip moral yang membawa konsekuen terhadap bisikan hati nurani (consience). Allah SWT, telah membekali hati pada manusia yang berisi pada suara-suara Allah SWT tentang nilai Kebenaran. oleh karena itu nilai-nilainyang ditetapkan Allah adalah nilai yang harus dipegang teguh. Allah SWT berfirman “lalu Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya,sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (As Syams 8-10). Communication. Rasulullah SAW bersifat proaktof serta menguasai keterampilan berkomunikasi dengan baik (communication)

Pemimpin Visioner untuk Membangun Daerah Berdaya Saing. Dalam konteks pembangunan daerah, pemimpin visioner harus mampu:Pertama, Merancang Kebijakan Berbasis Keberlanjutan. Pemimpin visioner tidak hanya fokus pada pembangunan jangka pendek, tetapi juga memastikan keberlanjutan sumber daya alam, sosial, dan ekonomi. Islam mengajarkan prinsip isti’mar, yaitu memakmurkan bumi sebagaimana firman Allah. Kedua, Mengutamakan Pendidikan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM). Meningkatkan kualitas pendidikan adalah salah satu strategi untuk membangun daerah berdaya saing. Ketiga, Mendorong Inovasi dan Teknologi. Islam mendorong umatnya untuk terus berinovasi dan memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk kemaslahatan umat. Pemimpin visioner akan mengintegrasikan teknologi dalam pembangunan daerah untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing. Keempat, Membangun Keadilan Sosial. Pemimpin visioner harus memastikan keadilan dalam distribusi sumber daya dan layanan publik. Rasulullah SAW bersabda:“Sebaik-baik pemimpin kalian adalah mereka yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian, kalian mendoakan mereka dan mereka mendoakan kalian.” (HR. Muslim)

“Barang siapa yang mengangkat seorang pemimpin, padahal dia mengetahui ada yang lebih baik di antara mereka, maka sungguh dia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya.” (HR. Ahmad)

Pemimpin visioner dalam perspektif Islam adalah sosok yang mampu membawa daerah menuju kemajuan dengan tetap berlandaskan nilai-nilai keadilan, keberlanjutan, dan kesejahteraan umat. Dalam konteks Pilkada serentak 2024, umat Islam memiliki tanggung jawab besar untuk memilih pemimpin yang memiliki visi yang jelas, kompetensi yang mumpuni, dan moralitas yang tinggi. Dengan meneladani prinsip-prinsip kepemimpinan Rasulullah SAW, daerah-daerah di Indonesia dapat menjadi lebih berdaya saing, baik di tingkat nasional maupun global.

 

Muhammad Soleh Hapudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *