Dalam rangka memperingati Hari Ibu, 22 Desember 2023, mari kita merenung sejenak bagaimana eksistensi Ibu dalam hidup kita. Ibu merupakan sosok yang sangat istimewa tidak ada duanya bagi anaknya.Ibu adalah sosok hebat yang mampu melakukan tugas-tugasnya tanpa mengenal lelah. Dalam keluarga Ibu-lah sebagai tiang negara (المراءة عماد البلاد ). Apabila ibu melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik maka negara ini akan baik. Akan tetapi sebaliknya jika ibu tidak bisa melaksanakan tugas dan fungsinya dengan baik, maka rusaklah negara ini.
Mengapa, karena dari ibu yang sukses, akan lahir generasi muda yang shalih shalihah, cerdas, religius, terampil, memiliki keunggulan kompetitif, dan siap menjadi calon-calon pemimpin masa depan Berbicara tentang memuliakan manusia apalagi terhadap seorang ibu, kita perlu belajar kepada salah seorang sahabat Nabi. Pemuda ini tidak pernah berjumpa dengan nabi. Dia seorang pemuda miskin yang tinggal di pinggiran Yaman, namanya Uwais Al-Qarni. Uwais Al-Qarni bukan pemuda terkenal. Dia miskin dan memiliki penyakit kulit. Namun, ia pernah disebut Rasulullah SAW sebagai pemuda yang sangat dicintai Allah dan terkenal di langit.
Rasul pernah berpesan kepada dua sahabatnya “Di zaman kamu nanti akan lahir seorang manusia yang doanya sangat makbul. Kalian berdua, pergilah cari dia. Dia akan datang dari arah Yaman, dia dibesarkan di Yaman.”
Siapakah dia? Dia adalah Uwais Al Qarni, dalam sebuah hadist riwayat tertuang dirinya sebagai manusia yang dirindukan Surga.
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas kamu durhaka pada ibu dan menolak kewajiban, dan meminta yang bukan haknya, dan membunuh anak hidup-hidup, dan Allah, membenci padamu banyak bicara, dan banyak bertanya, demikian pula memboroskan harta (menghamburkan kekayaan).” (HR Bukhari dan Muslim)
Dikisahkan, Uwais al Qarni sehari-hari mencari nafkah dengan berdagang dan menggembala kambing milik orang lain. Dia masuk Islam setelah beberapa sahabat yang diutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di Yaman.
Dikisahkan, Uwais al Qarni sehari-hari mencari nafkah dengan berdagang dan menggembala kambing milik orang lain. Dia masuk Islam setelah beberapa sahabat yang diutus Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdakwah di Yaman.
Di rumahnya yang kecil dan reyot, Uwais al Qarni hidup berdua dengan sang ibu yang seorang tunanetra. Satu hari, dia berkata, “Tidak akan pernah terlontarkan dari mulut ibuku, kecuali akan kulakukan yang dia inginkan.”
“Wahai Uwais, ibu sudah tua. Andai kematian mendatangi ibu, ada keinginan yang ibu ingin sampaikan,” kata Ibunya satu waktu.
“Apa itu, Ibu? Katakan,” jawab Uwais al Qarni penasaran. “Ibu ingin pergi haji,” jelas sang ibu yang sudah sangat renta kepada Uwais al Qarni.
Mendengar itu, Uwais termenung, memikirkan bagaimana mewujudkan hal itu, sedangkan mereka berjarak ribuan kilometer dari Tanah Suci dan keadaannya sangat miskin. Namun Uwais tidak menyerah. Dia mendapat cara untuk melatih dirinya agar dapat menggendong ibunya ke Kota Makkah.
Dia membeli seekor anak sapi yang setiap hari digendongnya
Dengan hati yang kuatnya, ia membeli seekor anak lembu dan setiap pagi ia menggendong bolak balik anak lembu menaiki puncak gunung. Naik-turun, naik-turun, tiada henti. Delapan bulan berselang, fisik Uwais terbentuk, besar, dan kuat menggendong untuk memperkuat tubuhnya. Ia sempat dikira gila orang di lingkungannya dan banyak juga yang menganggapnya aneh.
Setelah 8 bulan berlalu dan musim haji datang, ia memenuhi permintaan sang ibu dengan menggendongnya berjalan kaki dari Yaman ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji.
Walaupun sangat sulit bagi Uwais Al Qarni, baginya keutamaan dirinya adalah merawat dan mengabulkan semua permintaan ibunya. Ketegarannya tersebut menjadi kisah mulia bagi anak dan ibu semasa zaman Rasullulah SAW.
Kemudian mulailah ibunya digendong, menempuh jarak yang sangat jauh menuju Makkah untuk berhaji. Di sana, sang ibu diajak tawaf 7 putaran sampai selesai, lalu dibawa ke makam Nabi Ibrahim untuk salat 2 rakaat, dan sai.
Ketika Uwais sedang menunaikan ibadah haji bersama ibunya, Uwais berjalan menggendong ibunya wukuf di Ka’bah. Sang ibu meneteskan air mata telah melihat Baitullah.
Sang ibu cukup kaget dengan permintaan dan doa Uwais setelah mendengar apa yang diucapkan Uwais.
“Ya Allah, ampuni semua dosa ibu,” kata Uwais.
“Bagaimana dengan dosamu?” tanya sang Ibu keheranan.
Uwais menjawab, “Dengan terampuninya dosa ibu, maka ibu akan masuk surga. Cukuplah ridha dari ibu yang akan membawaku ke surga.”
Seketika Allah SWT memberikan karunia untuknya, keinginan tulusnya dan cinta ibunya membuat ia sembuh dari penyakit kulitnya, dan tertinggal bulatan putih sebesar dua dirham di tengkuknya.
Ketika di Madinah, Uwais ingin menjumpai Nabi Muhammad. Setelah itu ia menemukan rumah Nabi namun ia tidak berjumpa dengan Nabi karena sedang bertempur, dan bertemu Siti Aisyah r.a, istri Nabi.
Kecewa karena tidak berjumpa, namun ia teringat oleh ibunya yang sakit di rumah. Tak lama dari situ, ia bergegas pulang untuk merawat ibunya lagi dan menitipkan salamnya untuk Nabi.
Peperangan usai, Nabi pulang ke Madinah. Sesampainya di rumah, ia menanyakan kepada Aisyah siapa yang mencarinya. Aisyah menjelaskan ia adalah Uwais dan sudah pulang ke Yaman untuk merawat Ibunya yang sakit-sakitan.
Lalu, Nabi pun menerangkan tentang Uwais Al Qarni, kepada sahabatnya.
“Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia, perhatikanlah ia mempunyai tanda putih di tengkuknya.”
Sesudah itu Nabi memandang kepada Ali bin Abi Thalib dan Umar bin Khaththab seraya berkata, “Suatu ketika apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah doa dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit, bukan orang bumi.”
Tak lama Nabi meninggal, dua sahabat Nabi segera menjumpai Uwais di Yaman, dan meminta ampun terhadap dosa-dosanya.
Semoga kisah ini menginspirasi kita semua, untuk terus berbakti dan memuliahkannya, Dalam Hadistnya Rasululallah saw bersabda ” Surga itu ada di bawah Telapak Kaki Ibu”.
Semoga kita semua termasuk hamba-hamba Allah yang siap dan mampu membahagiakan kedua orang tua kita, terutama ibu kita. Semoga Allah membahagiakan ibu dan orang tua kita, karena kita sebagai anak-anaknya insyaa Allah termasuk generasi yang shalih dan shalihah jika kita senantiasa mendoakan mereka. والى الله ترجع الامور
- Ketua DWP Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten/ Dosen FKIP Universitas Esa Unggul Jakarta, Ketua Litbang Majelis Dai Kebangsaan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Banten, Ketua Komisi Litbang MUI Kota Tangerang)