“Labbaikallahumma labbaik, labbaika la syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk. La syarika laka“. Artinya: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tiada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, kemuliaan, dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.
Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia telah mengumumkan jadwal keberangkatan jemaah haji Indonesia ke Arab Saudi pada Mei 2024. Penempatan hotel jemaah haji sesuai dengan Keputusan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah (Dirjen PHU) No 214 tahun 2024 tentang Penempatan Akomodasi Jemaah Haji Indonesia di Makkah dan Madinah 1445 H/2024. penempatan jemaah haji Indonesia terbagi pada lima wilayah, yaitu: Syisyah, Raudhah, Jarwal, Misfalah, dan Rey Bakhsy.
Laman resmi Kemenag RI mengungkapkan bahwa Keberangkatan jemaah haji Indonesia terbagi dalam dua gelombang. Pemberangkatan gelombang pertama dijadwalkan dari 12 – 23 Mei 2024. Untuk gelombang kedua, pemberangkatan jemaah akan berlangsung dari 24 Mei – 10 Juni 2024. Kota Tangerang memiliki 5 (lima) kelompok terbang ( kloter), Kloter Pertama Calon Jamaah Haji Kota Tangerang mulai pemberangkatan dari tanggal Sabtu, 11 Mei 2024, 15 Mei, 19 Mei, 29 Mei dan kloter terakhir kota Tangerang tanggal 7 Juni 2024, yang akan di lepas di Masjid Raya Al Adzhom PUSPEM Kota Tangerang
Setiap tahun, jutaan umat Islam dari berbagai belahan dunia memenuhi panggilan suci untuk menunaikan ibadah haji, salah satu rukun Islam yang memiliki makna mendalam dalam kehidupan umat Muslim. Namun, lebih dari sekadar menjalani ritual fisik, haji mengajarkan sebuah perjalanan spiritual yang membutuhkan niat tulus dan kesadaran spiritual yang mendalam.
Dalam mencapai haji mabrur, atau haji yang diterima oleh Allah, penting bagi setiap jamaah untuk memahami dan menghayati pentingnya niat yang tulus dan kesadaran spiritual yang kokoh. Pertama-tama, niat merupakan fondasi utama dalam perjalanan ibadah haji. Niat adalah salah satu aspek yang sangat penting dalam menggapai Haji Mabrur. Niat yang murni dan tulus dapat membantu meningkatkan kesadaran spiritual dan memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Dalam Islam, niat yang murni dapat membantu meningkatkan kekhusyukan dan keberkahan selama beribadah. Oleh karena itu, penting bagi setiap Muslim untuk memiliki niat yang murni dan tulus dalam melaksanakan ibadah Haji.
Niat yang tulus dan murni adalah kunci untuk membuka pintu rahmat Allah. Rasulullah SAW bersabda, “Perbuatan itu (ibadah) menurut niatnya.” Hal ini menekankan bahwa niat yang tulus adalah pondasi dari setiap amal ibadah yang diterima oleh Allah. Dalam konteks haji, niat yang benar adalah niat untuk menunaikan ibadah haji semata-mata karena Allah, bukan karena motif-motif dunia seperti popularitas atau kebanggaan diri. Niat yang tulus memperkuat kesadaran spiritual seseorang, menjadikan setiap langkah yang diambil selama haji sebagai bentuk pengabdian dan cinta kepada Sang Pencipta.
Kedua, kesadaran spiritual memainkan peran penting dalam memperdalam makna ibadah haji. Haji bukanlah sekadar perjalanan fisik menuju tanah suci, tetapi juga perjalanan batin yang membutuhkan kesadaran spiritual yang mendalam. Kesadaran spiritual membawa jamaah untuk menghadirkan Allah dalam setiap aspek kehidupan mereka selama ibadah haji. Ini termasuk kesadaran akan tata cara ibadah yang benar, pengendalian diri dalam menghadapi cobaan dan godaan, serta sikap rendah hati dan pengampunan terhadap sesama.
Dengan kesadaran spiritual yang kokoh, setiap langkah yang diambil oleh jamaah akan menjadi sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, dan setiap pengorbanan yang dilakukan akan menjadi tanda cinta dan pengabdian kepada-Nya.
Haji Mabrur adalah salah satu tujuan utama bagi setiap Muslim yang beriman kepada Allah SWT. Ibadah ini menuntut kesiapan lahir dan batin, serta kesadaran akan tujuan utama pelaksanaannya, yaitu untuk mencari ridha dan ampunan dari Allah SWT. Mencapai haji mabrur, atau haji yang diterima oleh Allah, bukanlah sekadar tentang menyelesaikan serangkaian ritual fisik, tetapi juga tentang memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta. Niat yang tulus dan kesadaran spiritual yang mendalam merupakan kunci untuk membuka pintu rahmat Allah dalam perjalanan ibadah haji. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang berhaji karena Allah dan tidak berkata dusta dan tidak berbuat dosa, maka ia akan kembali seperti pada hari ia dilahirkan oleh ibunya.” Oleh karena itu, marilah kita menjadikan niat yang tulus dan kesadaran spiritual yang kokoh sebagai pedoman dalam menjalani perjalanan haji, sehingga kita dapat menggapai haji mabrur yang menjadi jalan menuju keridhaan-Nya.
(Dr H. Muhammad Soleh Hapudi, M.Si /Penulis Buku Nasional/Dosen FKIP Universitas Esa Unggul /Ketua DPW Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten, Pengurus Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan Republik Indonesia (IDIP RI)