Berakhirnya Ramadhan pada tahun ini kembali membuat kita sedih dan gembira. Kita sedih karena ada semacam kekhawatiran apabila Ramadhan tidak dapat kita nikmati lagi pada tahun-tahun yang akan datang, karena bisa jadi kita telah dipanggil Allah SWT sebelum tiba Ramadhan tahun yang akan datang. karena perkara umur tidak ada yang dapat mengetahui. Sebagaimana Allah berfirman dalam QS Lukman 31:34 “………….Tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan dia kerjakan besok, (Begitu pula,) tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati….(QS Lukman 31:34)
Meskipun demikian, berakhirnya bulan Ramadhan tahun ini membuat kita menjadi gemberira. berakhirnya bulan Ramadhan membuat kita menjadi orang-orang kembali kepada fitrah atau kesucian kembali sebagaimana pada saat bayi dilahirkan, yakni tidak memiliki dosa. Seperti tertuang dalam hadist HR Bukhari, “Barangsiapa yang melaksanakan ibadah Shaum selama satu bulan penuh dengan penuh keimanan kepada Allah maka apabila ia memasuki Idul Fitri ia akan kembali menjadi fitrah seperti bayi (Tiflul) dalam rahim ibunya“
Idul fitri merupakan rangkaian tak terpisahkan dari ritual di Bulan Ramadhan. Ketika bulan Ramadhan kita giat untuk berlomba-lomba dalam meningkatkan amaliah ibadah kita, seperti shaum Ramadhan, qiyamul lail, tadarusss Al Qur’an, zakat, sedekah serta ibadah lainnya. Dengan harapan, semoga dengan ibadah yang telah kita lakukan, Allah berkenan jia kita dari berbagai noda dosa dalam diri kita. Ketika seorang Muslim telah terhapus dosa-dosanya, seperti beridul fitri dalam arti kembali kepada kesucian seperi bayi yang baru dilahirkan.
Namun banyak yang lupa dosa apa yang dihapuskan oleh Allah? dosa yang dapat diampuni oleh Allah dengan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan adalah dosa-dosa yang berhubungan langsung dengan Allah. Sedangkan dosa-dosa yang berhubungan dengan manusia, Allah berkenan mengampuninya jika orang yang kita sakiti, kita zalimi, kita bohongi, kita tipu, kita gunjing telah berkenan memaafkan kita.
Sebagaimana firman Allah ST yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu.719) Maka, berhati-hatilah kamu terhadap mereka. Jika kamu memaafkan, menyantuni, dan mengampuni (mereka), sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS At Taghabun 64:14).
Ayat ini berbicara tentang tiga sifat mulia yang ditujukan kepada orang-orang yang beriman. terutama yang telah menyelesaikan Ibadah Ramadhan dengan baik, hendaknya mampu menghadirkan ketiga sifat ini dalam kehidupan mereka pasca Ramadhan. Ketiga sifat itu adalah memaafkan (ta’fu) tidak marah nada hinaan (tasfahu) dan mengamopuni (taghfiru) kesalahan orang lain.
Idul fitri yang merupakan hari pertama pasca Ramadhan selayaknya menjadi parameter diri, akan sifat pemaaf yang ada dalam diri kita. Sudah sepantasnya jika kita berhati-hati dengan dosa terhadap sesama, karena dosa yang berkaitan dengan haqqul adami (hak anak adam) lebih sulit tobatnya. Ibnu Ma’ud pernah bercerita, bahwa nanti pada hari kiamat, seseorang yang akan dipegang tangannya, lalu diserukan kepada khalayak ramai, ” ini adalah Fulan bin Fulan”. Barang siapa yang memiliki hak atasnya, hendaklah ia mengambilnya. Allah mengampuni dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-Nya sekehendak-Nya. tetapi Allah tidak akan mengampuni dosa-dosa yang berkaitan dengan hak-hak manusia. ” Kemudian orang itu ditegakan di hadapan orang banyak, dan Allah memerintahkan orang-orang yang nmemiliki hak atas orang itu, ‘ Ambilah hak-hak kalian!” lalu Allah berfirman kepada malaikat, ‘Ambilah dari amal-amal baiknya, kemudian berikanlah kepada yang berhak ssesuai dengan tuntutannya !”. Jika orang ini ssudah habiss kebaikannya ssedangkan tuntutan terhadapnya masih banyak!” Allah menjawab, “Ambillah dari kejahatan mereka (yang nmenuntut( itu lalu tambahkan kepadanya kejahatan!” lalu orang itupun dilemparkan ke dalam api neraka.
Betapa malangnya jika kita menjadi mnuia yang eluruh amal kebaikannya habi terkiki karena kezaliman yang pernah kita lakukan kepada eama belum empat termintakan maaf. betapa malangnya jika pahala shalat, puasa, zakat erta haji kita hanya menjadi penebuss doa yang pernah kita lakukan. dalm bbahaa Raulullah mengitilahkan ebagai mufli yakni orang yang bangkrut. iapakah orang yang bangkrut? orang yang pada hari kiamat membaa eabrek pahala halat, puaa, zakat, tetapi elama hidup mencaci ini, memaki ini, menzalimi ini. diberikan pahala-pahala kepada ini. jika pahalanya telah habis belum tertebus, diambilah dosa-dosa 0rang yang dizaliminya, kemudian dosa itu ditimpahkan kepadanya. lalu iapun dilemparkan ke dalam neraka.
Semoga Halal bi halal menjadi momentum yang tepat untuk saling memaafkan, di hari Idul Fitri ini ummat Islam diharapkan memiliki mental yang kuat untuk saling memaafkan, sehingga diri kita benar-benar dari segala salah.
Penulis : Dr H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si/ Ketua DPW Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten, Dosen Universitas Esa Unggul)