Lisan adalah salah satu alat komunikasi terpenting dalam kehidupan manusia. Dalam perspektif psikologi sosial, ucapan yang keluar dari lisan tidak hanya mencerminkan kepribadian individu, tetapi juga memiliki pengaruh besar terhadap hubungan sosial, pembentukan identitas, dan dinamika kelompokDengan lisan, seseorang dapat menebarkan kebaikan, tetapi dengan lisan pula, seseorang bisa terjerumus dalam dosa besar. Dalam psikologi sosial, lisan memainkan peran utama dalam membangun dan memelihara hubungan sosial. Ucapan seseorang dapat memengaruhi bagaimana ia dipersepsikan oleh orang lain, menciptakan kedekatan, atau bahkan memicu konflik. Teori Komunikasi Relasional menyatakan bahwa komunikasi verbal adalah kunci untuk membangun hubungan yang sehat dan saling mendukung.
Psikologi sosial menunjukkan bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang besar. Ucapan dapat membangun atau menghancurkan hubungan. Dalam konteks ini, menjaga lisan berarti memilih kata-kata yang konstruktif dan positif. Penelitian menunjukkan bahwa komunikasi positif dapat meningkatkan kepuasan dalam hubungan interpersonal. Sebaliknya, ucapan yang merugikan, seperti kritik yang tidak membangun atau komentar negatif, dapat menyebabkan keretakan dalam hubungan dan meningkatkan konflik
Dalam Islam, menjaga lisan merupakan salah satu bentuk ibadah dan kunci menuju keselamatan di dunia dan akhirat. Dalam ajaran Islam, lisan memiliki peran yang sangat krusial. Lisan bukan hanya alat untuk berkomunikasi, tetapi juga cerminan hati dan iman seseorang. Islam memandang lisan sebagai salah satu alat utama yang harus dijaga. Allah SWT dan Rasulullah SAW memberikan banyak panduan tentang pentingnya menjaga ucapan, karena setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban.
Al-Quran dan Hadist Nabi Muhammad SAW berulang kali menekankan pentingnya menjaga lisan dari ucapan yang buruk, dusta, ghibah (menggosip), dan kata-kata kasar. Dalam ajaran Islam, menjaga lisan merupakan salah satu aspek penting yang sangat ditekankan. Lisan, sebagai alat komunikasi, memiliki kekuatan yang besar; ia dapat membangun atau menghancurkan, menyatukan atau memecah belah. Oleh karena itu, menjaga lisan bukan hanya sekadar etika sosial, tetapi juga merupakan jalan menuju surga.
Allah SWT telah memberikan lisan sebagai amanah yang harus dijaga. Setiap kata yang keluar dari mulut kita akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Dalam Al-Quran surat Al-Ahzab ayat 71, Allah SWT berfirman “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar“. Ayat ini dengan jelas menunjukkan bahwa Allah SWT sangat memperhatikan ucapan kita. Perkataan yang benar adalah perkataan yang sesuai dengan Al-Quran dan Sunnah, serta tidak menyakiti hati orang lain.
Prinsip komunikasi yang bersumber dari Al Quran yang menjadi acuan komunikasi kita, antara lain : Qowulan Sadidan, dapat dimaknai sebagai pembicaraan yang lemah lembut, perkataan yang benar , jujur, tidak berbohing dan tidak berbelit-belit. Qowlan Balighan,dimaknai berbicara efektif karena pesan yang disampaikan itu issinya benar dengan cara komunikatif dan menyentuh hati. Qowlan Maysururon, dapat dimaknai sebagai perkataan yang mudah. karena pesan yang disampaikan mudah dipahami, lunak, indah, bagus dan optimis. Qowlan Layyinan, dimaknai sebagai ucapan lemah lembut,menyentuh hati dan baik. Qowlan Kariman, komunikasi dilakukan dengan menyampaikan ucapan yang memuliakan, menhgormati, menggungkan, menghargai daan lemah lembut. perkaatn yang mulia mengandung isi pesan yang mulia untuk menghargai dan menghormati kawan bicara. dan teraakhir Qowlan ma’rufan, komunikasi dengan menyampaikan isi pesan dan proses komunikasi yang sopan, yang ssantun , halus, baik indah, benar, menyenangkan, baku dan logis. bisa dimaknai ma’ruf disini adalah bilai-nilai baik yang diterima dan dikui oleh massyarakat.
Banyak hadis Nabi Muhammad SAW yang menekankan pentingnya menjaga lisan. Salah satu hadis yang terkenal adalah ” Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku tentang kebaikannya apa yang ada di antara kedua tulang rahangnya; yakni mulut atau lidah, serta antara kedua kakinya; yakni kemaluannya, maka saya memberikan jaminan surga untuknya.” (HR. Al-Bukhari). Hadist ini menunjukkan bahwa menjaga lisan merupakan kunci utama untuk meraih surga. Dengan menjaga lisan, kita telah menjamin sebagian besar amal kebaikan kita. Hadit lain : “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadist ini menunjukkan bahwa menjaga lisan adalah bagian dari iman. Jika seseorang tidak dapat berbicara dengan baik, lebih baik ia diam. Ini adalah bentuk tanggung jawab sosial yang harus diemban oleh setiap Muslim.
Menjaga lisan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada masyarakat secara keseluruhan. Ucapan yang baik dapat menciptakan suasana yang harmonis, memperkuat hubungan antar sesama, dan menghindarkan dari konflik. Sebaliknya, ucapan yang buruk dapat menimbulkan fitnah, ghibah, dan perpecahan.
Menjaga lisan merupakan elemen penting dalam psikologi sosial yang berkontribusi pada hubungan interpersonal dan kesejahteraan masyarakat. Dengan memilih kata-kata yang baik, kita dapat membangun hubungan yang harmonis, mengurangi konflik, dan menciptakan lingkungan sosial yang positif. Dalam konteks agama, ajaran Islam menekankan pentingnya menjaga lisan sebagai bagian dari tanggung jawab sosial dan iman. Dengan demikian, menjaga lisan bukan hanya sekadar etika, tetapi juga merupakan investasi untuk masa depan yang lebih baik, baik secara individu maupun sosial.
Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah SWT yang mampu menjaga lisan dan memperoleh kemuliaan surga yang dijanjikan. Aamiin.
Penulis ; Dr. H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si ( Dosen Universitas Esa Unggul Jakarta, Ketua Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten, Kepala Litbang Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang, Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim (ICMI) Kota Tangerang