Fatherless Effect: “Anak tidak hanya membutuhkan rumah untuk berteduh, tetapi juga membutuhkan ayah untuk bertumbuh.”
Setiap tanggal 29 Juni, bangsa Indonesia memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas). Peringatan ini bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan momentum untuk kembali menyadari bahwa keluarga adalah sekolah pertama, orangp tua adalah guru pertama, dan rumah adalah ruang pendidikan yang paling menentukan masa depan anak.
Di tengah berbagai persoalan pendidikan yang kita hadapi saat ini, seperti menurunnya karakter peserta didik, meningkatnya kasus perundungan, kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba, kecanduan gawai, hingga krisis kesehatan mental pada anak, sering kali perhatian hanya tertuju kepada sekolah. Padahal, akar dari banyak persoalan tersebut justru berawal dari keluarga.
Salah satu fenomena yang kini semakin mendapat perhatian para psikolog, pendidik, dan pemerhati keluarga adalah fatherless effect, yaitu kondisi ketika anak tumbuh tanpa kehadiran figur ayah yang utuh. Fatherless bukan hanya terjadi karena seorang ayah telah meninggal dunia. Lebih dari itu, fatherless juga terjadi ketika seorang ayah masih hidup, tinggal serumah, tetapi tidak hadir secara emosional dalam kehidupan anak.
Di era digital, bentuk fatherless semakin kompleks. Ayah mungkin berada di rumah, tetapi sibuk dengan gawai. Anak duduk di samping ayah, tetapi tidak diajak bicara. Ayah melihat layar lebih lama daripada melihat wajah anaknya. Rumah menjadi dekat secara jarak, tetapi jauh secara batin.
Kondisi ini melahirkan fatherless emosional. Anak tidak kehilangan ayah secara fisik, tetapi kehilangan perhatian. Ia tidak kekurangan fasilitas, tetapi kekurangan percakapan. Ia tidak kekurangan uang jajan, tetapi kekurangan pelukan
Dalam konteks pendidikan, kondisi ini berpengaruh pada konsentrasi belajar, kestabilan emosi, dan perilaku sosial anak. Anak yang kurang mendapat perhatian di rumah sering mencari perhatian di sekolah, baik dengan cara positif maupun negatif. Maka, ayah perlu hadir kembali. Hadir bukan hanya dengan tubuh, tetapi dengan hati. Ayah perlu meletakkan gawai saat berbicara dengan anak. Ayah perlu mendengar tanpa menghakimi. Ayah perlu memberi waktu khusus untuk anak. Ayah perlu menjadi tempat pulang yang aman.
Fatherless effect harus menjadi perhatian bersama. Bukan untuk menyalahkan ayah. Bukan untuk merendahkan keluarga yang memiliki keterbatasan. Namun, untuk mengingatkan bahwa kehadiran ayah memiliki pengaruh besar dalam kehidupan anak.
Pada Hari Keluarga Nasional 29 Juni 2026, mari kita renungkan kembali peran ayah dalam keluarga dan pendidikan. Jangan biarkan anak-anak tumbuh dalam rumah yang lengkap secara fisik, tetapi kosong secara batin. Jangan biarkan mereka memiliki ayah, tetapi tidak merasakan kehadiran ayah.
Ketua Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan Republik Indonesia (IDIP RI) Provinsi Banten, Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Forum Silaturahmi Doktor (FORSILADI)Provinsi Banten, Dewan Pimpinan Majelis (MUI) Kota Tangerang/Dosen Pascasarjana Magister Manajemen Pendidikan (S2)Dasar Universitas Esa Unggul Jakarta/Penulis Buku Nasional