Menyambut 1 Muharram :Waktu Terus Berjalan, Apakah Kita Ikut Berubah?

Setiap kali Tahun Baru Islam datang, kita kembali mendengar kata hijrah. Kata ini begitu akrab di telinga umat Islam. Namun, tidak sedikit yang memahami hijrah hanya sebatas perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, sebagaimana hijrahnya Rasulullah ﷺ dari Makkah ke Madinah. Padahal, makna hijrah jauh lebih luas, lebih dalam, dan lebih menyentuh kehidupan setiap muslim hingga hari ini.

Hijrah sejatinya adalah perjalanan hati. Ia adalah proses perubahan diri menuju kebaikan. Hijrah adalah keberanian meninggalkan apa yang dibenci Allah menuju apa yang dicintai-Nya. Hijrah adalah perjuangan mengalahkan hawa nafsu, memperbaiki akhlak, meluruskan niat, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Karena itu, setiap datangnya bulan Muharram, pertanyaan yang patut kita ajukan bukanlah: “Sudah berapa kali kita merayakan Tahun Baru Islam?” Tetapi: “Sudah sejauh mana kita berubah menjadi lebih baik?” Peristiwa hijrah Rasulullah ﷺ bukanlah sekadar perpindahan geografis dari Makkah ke Madinah. Hijrah adalah tonggak perubahan besar dalam sejarah Islam. Dari kondisi tertindas menuju kemuliaan. Dari kelemahan menuju kekuatan. Dari keterbelakangan menuju peradaban.

Lebih dari itu, Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa hijrah yang paling utama adalah hijrah yang terjadi dalam diri manusia. Rasulullah mengingatkan dalam Hadistnya “Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”(HR. Bukhari)

Hadis ini memberikan pemahaman yang sangat mendalam. Seseorang mungkin tidak pernah berpindah kota, tidak pernah berpindah negara, tetapi jika ia meninggalkan maksiat menuju ketaatan, meninggalkan keburukan menuju kebaikan, maka ia telah melakukan hijrah yang sesungguhnya. Hijrah bukan soal jarak yang ditempuh kaki, melainkan perubahan yang ditempuh hati

Waktu Terus Berjalan, Apakah Kita Ikut Berubah?

Tahun demi tahun berlalu begitu cepat. Kalender berganti, usia bertambah, rambut mulai memutih, tenaga perlahan berkurang. Namun, sering kali perubahan itu hanya terjadi pada angka usia, bukan pada kualitas iman dan amal kita. Allah SWT berfirman: ““Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Ayat ini mengajarkan pentingnya muhasabah. Setiap pergantian tahun semestinya menjadi momen evaluasi diri.Sudahkah shalat kita semakin khusyuk?Sudahkah Al-Qur’an semakin dekat dengan kehidupan kita?Sudahkah lisan kita lebih terjaga?Sudahkah hati kita lebih bersih dari iri, dengki, dendam, dan kebencian?Jika tidak ada perubahan, maka jangan-jangan yang berganti hanya kalender, sedangkan diri kita masih tetap sama

Pindah rumah mungkin mudah. Pindah pekerjaan mungkin bisa dilakukan. Namun memindahkan hati dari kesombongan menuju kerendahan hati, dari kebencian menuju kasih sayang, dari kemaksiatan menuju ketaatan, itulah hijrah yang sesungguhnya berat. 

Betapa banyak orang yang mampu berjalan ribuan kilometer, tetapi tidak mampu melangkah meninggalkan dosa yang telah lama menjadi kebiasaannya.Betapa banyak orang yang mampu mengubah penampilan luar, tetapi belum mampu memperbaiki isi hatinya. Padahal Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, melainkan hati dan amalnya. “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi Allah melihat hati dan amal kalian.”(HR. Muslim)

Oleh karena itu, hijrah yang paling penting adalah hijrah hati. Sebab dari hatilah lahir seluruh perilaku manusia. Jika hati baik, maka baik pula ucapan dan perbuatannya. Jika hati rusak, maka rusak pula kehidupannya. Di antara bentuk hijrah yang sering terlupakan adalah hijrah dari kebencian menuju kasih sayang.

Banyak orang rajin beribadah, tetapi masih menyimpan dendam bertahun-tahun. Ada yang sulit melupakan kesalahan orang lain. Ada yang memilih memutus silaturahim hanya karena persoalan dunia. Padahal hati yang dipenuhi kebencian tidak akan pernah merasakan ketenangan. Allah SWT berfirman tentang penghuni surga: ““Dan Kami hilangkan segala rasa dendam yang berada dalam hati mereka, sehingga mereka menjadi bersaudara.”(QS. Al-Hijr: 47)

Surga adalah tempat yang bersih dari kebencian. Maka siapa yang ingin menjadi penghuni surga hendaknya mulai membersihkan hatinya sejak di dunia. Terkadang yang perlu kita hijrahkan bukan rumah kita, tetapi ego kita. Bukan tempat tinggal kita, tetapi sifat buruk yang selama ini mengotori hati.

Penulis  : Dr.H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si (Ketua DPW Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan republik Indonesia (IDIP RI) Provinsi Banten, Ketua DPW Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten 

Muhammad Soleh Hapudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *