Beberapa hari kedepan Kita akan merayakan Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Idul Fitri sering dimaknai sebagai hari kemenangan. Hari di mana manusia merayakan keberhasilan menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh. Namun, jika kita menelisik lebih dalam, Islam tidak pernah menempatkan “perayaan” sebagai inti, melainkan “perubahan”. Maka, hakikat ‘Id (hari kembali) bukan terletak pada pakaian baru, hidangan istimewa, atau gemerlap suasana, tetapi pada bertambahnya ketaatan seorang hamba kepada Allah. Dengan kata lain, ‘Id yang sejati bukanlah hari yang kita rayakan, melainkan kondisi jiwa yang berubah.
Ramadhan selalu datang dengan kehangatan yang berbeda. Hati yang biasanya keras menjadi lembut. Masjid yang biasanya sepi menjadi ramai. Al-Qur’an yang kadang hanya tersimpan di rak, tiba-tiba menjadi sahabat harian. Lisan lebih terjaga, sedekah lebih ringan, dan doa terasa lebih dekat ke langit. Semua terasa indah. Semua terasa hidup.
Namun, ada satu kenyataan yang sering kita hindari:ketika Ramadhan pergi… banyak dari ibadah itu ikut pergi. Yang tadinya rajin ke masjid, kembali jarang terlihat. Yang tadinya rutin membaca Al-Qur’an, kembali sibuk dengan hal lain. Yang tadinya mudah menahan diri, kembali mudah terjatuh.
Seolah-olah ibadah itu hanya milik Ramadhan, bukan milik kehidupan.Padahal, jika kita jujur, ini bukan soal Ramadhan yang pergi tapi soal kita yang tidak menjaga apa yang sudah kita bentuk selama bulan nramadhan. Allah ﷻ berfirman: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan (kematian).”(QS. Al-Hijr: 99)
Ayat ini sangat jelas. Ibadah tidak punya masa berlaku.Ia tidak berhenti di bulan Ramadhan. Ia tidak selesai ketika takbir Idul Fitri berkumandang. Kalau di Ramadhan kita begitu dekat dengan Allah, maka seharusnya setelahnya kita tetap berusaha dekat, meskipun tidak sesempurna sebelumnya. Ramadhan itu seperti madrasah. Ia mendidik kita selama sebulan penuh. Mengajarkan sabar, melatih disiplin, membiasakan ibadah, dan membersihkan hati.
Tapi pertanyaannya: apakah kita benar-benar lulus…atau hanya hadir tanpa membawa perubahan?Apakah Ramadhan benar-benar meninggalkan bekas dalam diri kita?Rasulullah ﷺ mengingatkan dengan sangat tegas:“Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi tidak mendapatkan apa-apa selain lapar dan dahaga.”(HR. Ibnu Majah)
Padahal, ukuran keberhasilan Ramadhan bukan di dalamnya, tetapi setelahnya. Apakah kita masih menjaga shalat? Apakah kita masih membaca Al-Qur’an? Apakah kita masih menahan diri dari dosa? Apakah hati kita masih hidup? Kalau jawabannya tidak, maka mungkin yang pergi bukan hanya Ramadhan tapi juga semangat kita untuk taat’
Al-Qur’an bahkan mengingatkan agar manusia tidak merusak sendiri bangunan kebaikan yang telah susah payah didirikan. Allah ﷻ berfirman:“Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan kembali benangnya setelah dipintal dengan kuat.”(QS. An-Nahl: 92)
Ayat ini sangat relevan untuk menjelaskan fenomena spiritual pasca-Ramadhan. Banyak orang selama bulan suci membangun kebiasaan-kebiasaan baik dengan sungguh-sungguh: bangun malam, membaca Al-Qur’an, menjaga lisan, memperbanyak sedekah, dan menertibkan shalat. Namun sesudah Ramadhan, semua itu pelan-pelan dilepas. Dalam bahasa ayat, mereka seperti orang yang telah memintal benang dengan tekun, lalu mengurainya kembali. Ini bukan hanya kerugian, tetapi juga bentuk inkonsistensi spiritual.
Maka ‘Id yang sejati justru tampak pada mereka yang berhasil mempertahankan rajutan kebaikan itu. Mungkin tidak sekuat dan sebanyak saat Ramadhan, tetapi tetap hidup dan tidak terputus, di sinilah pentingnya istiqamah
Penulis : Dr H Muhammad Soleh Hapudin, M.Si / Dewan Pimpinan Majelis Ulama (MUI) Kota Tangerang /Ketua DPW Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten