Haji Mabrur Lahir Dari Hati Yang Sabar dan Lisan Yang Terjaga
Di Tanah Suci, jutaan manusia berkumpul. Mereka datang dari berbagai penjuru dunia, dengan bahasa, budaya, dan kebiasaan yang berbeda. Namun, di balik keseragaman pakaian ihram, ada satu hal yang sering kali tidak seragam: cara menjaga lisan. Di sinilah letak ujian yang sering tidak disadari. Banyak yang kuat berjalan jauh, tapi lemah menahan ucapan. Banyak yang sabar menunggu, tapi tidak sabar dalam berkata. Padahal, boleh jadi bukan langkah kaki yang paling berat dalam haji, melainkan menjaga “voice”—suara, kata, dan respons yang keluar dari lisan kita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala sejak awal sudah memberikan peringatan yang sangat jelas dalam Al-Qur’an:“Tidak boleh rafats, tidak boleh berbuat fasik, dan tidak boleh berbantah-bantahan dalam (masa) haji.” (QS. Al-Baqarah: 197)
Ayat ini bukan sekadar larangan, tetapi peta jalan menuju kemabruran. “Tidak berbantah-bantahan” (jidal) bukan hanya tentang adu argumen, tetapi juga semua bentuk ucapan yang bernuansa emosi, keluhan, sindiran, bahkan komentar kecil yang menyakiti. Di sinilah kita mulai memahami bahwa mengurangi voice bukan sekadar etika, tetapi bagian dari ibadah itu sendiri. Seringkali, tanpa kita sadari, lisan menjadi sumber kelelahan baru. Cuaca panas, antrian panjang, keterbatasan fasilitas—semuanya menjadi bahan keluhan. Kalimat-kalimat seperti “panas sekali”, “lama sekali”, “tidak nyaman”, seakan menjadi refleks spontan.
Bayangkan, di tengah ibadah yang begitu agung, kita justru memenuhi catatan amal dengan keluhan yang berulang. Lisan yang seharusnya basah dengan zikir, malah sibuk dengan komentar yang menguras energi spiritual. Di sinilah kita perlu jujur pada diri sendiri: apakah kita datang untuk beribadah, atau untuk mengomentari keadaan? Rasulullah ﷺ memberikan panduan yang sangat sederhana namun mendalam: “Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini seakan menjadi kompas bagi setiap jamaah haji. Jika tidak mampu berkata baik, maka diam adalah pilihan yang lebih selamat. Namun diam di sini bukan diam kosong. Diam yang dimaksud adalah diam yang penuh makna—diam yang diisi dengan zikir, doa, dan kesadaran akan kehadiran Allah. Ketika hati dipenuhi zikir, maka kondisi seberat apapun terasa ringan. Sebaliknya, ketika hati kosong, maka hal kecil pun terasa berat.
Bayangkan seorang jamaah yang memilih diam dari keluhan, tetapi lisannya sibuk dengan istighfar. Ia berjalan pelan, tetapi hatinya dekat dengan Allah. Ia tidak banyak bicara, tetapi setiap ucapannya bernilai ibadah. Inilah sosok yang sedang menapaki jalan menuju haji mabrur. Rasulullah ﷺ bersabda: Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Pertanyaannya, apakah kita siap menjaga lisan untuk meraih balasan sebesar itu? Mengurangi voice bukan berarti kehilangan ekspresi, tetapi mengarahkan ekspresi kepada hal yang lebih bernilai. Bukan berarti menjadi kaku, tetapi menjadi lebih sadar. Bukan berarti membungkam diri, tetapi menghidupkan hati. Pada akhirnya, haji mengajarkan satu hal yang sangat dalam: tidak semua yang kita rasakan harus diucapkan, dan tidak semua yang kita pikirkan harus disuarakan. Ada saatnya kita memilih diam, agar hati bisa berbicara lebih dekat dengan Allah.
Pada akhirnya, haji bukan hanya tentang perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tetapi perjalanan batin menuju kedekatan dengan Allah. Di sana, kita belajar bahwa tidak semua yang kita rasakan harus diucapkan, dan tidak semua yang kita pikirkan harus disuarakan. Ada saatnya kita memilih diam, bukan karena tidak mampu berbicara, tetapi karena ingin menjaga nilai ibadah yang lebih tinggi.
Lisan yang terjaga adalah cerminan hati yang hidup. Ketika kita mampu mengurangi keluhan, menahan komentar, dan menghindari perdebatan, sejatinya kita sedang membersihkan ruang dalam jiwa untuk diisi dengan zikir dan keikhlasan. Di situlah letak ketenangan, di situlah hadirnya kekhusyukan, dan di situlah perlahan kita melangkah menuju kemabruran.
Semoga setiap kata yang kita tahan menjadi pahala, setiap zikir yang kita lantunkan menjadi cahaya, dan setiap langkah yang kita tempuh di Tanah Suci menjadi saksi kedekatan kita dengan Allah
Penulis : Dr. H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si /Pembimbing Ibadah (Bimbad) Kloter JKB 01 Kota Tangerang Provinsi BantenTahun 2026/Ketua DPW Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten / Dewan Pimpinan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang Tahun 2025-2030
Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Forum Silaturahmi Doktor (FORSILADI)Provinsi Banten/Dewan Pimpinan Majelis (MUI) Kota Tangerang/Dosen Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Esa Unggul Jakarta/Penulis Buku Nasional