Memaknai Kemerdekaan : Ketika Shalat Belum memerdekakan Hati

Negeri ini telah puluhan tahun merdeka, tetapi boleh jadi masih ada ruang dalam diri kita yang belum sepenuhnya terbebas. Kita telah merdeka dari penjajahan bangsa lain, tetapi belum tentu merdeka dari penjajahan ego. Kita telah bebas menentukan arah kehidupan, tetapi belum tentu bebas dari iri, dengki, dendam, kebencian, kesombongan, dan keinginan untuk merasa lebih baik dari orang lain. Bahkan lima kali sehari kita berdiri menghadap Allah, mengangkat tangan sambil mengucapkan Allahu Akbar, rukuk merendahkan tubuh, sujud meletakkan kening di bumi, lalu mengakhiri shalat dengan salam. Namun pertanyaannya, sudahkah takbir mengecilkan ego kita? Sudahkah rukuk menundukkan kesombongan kita? Sudahkah sujud meluruhkan penyakit hasad kita? Sudahkah salam menjadikan kehadiran kita membawa kedamaian bagi sesama? Jika belum, mungkin tubuh kita telah berkali-kali menunaikan shalat, tetapi hati masih menyimpan banyak belenggu. Sebab kemerdekaan yang paling sulit diperjuangkan bukan hanya kemerdekaan sebuah negeri, melainkan kemerdekaan hati dari segala sesuatu yang menjauhkannya dari Allah SWT

Ada satu pertanyaan yang mungkin lebih sulit dijawab daripada sekadar, “Sudahkah kita shalat hari ini?” Pertanyaan itu adalah, “Sudah sejauh mana shalat mengubah diri kita?” Sebab boleh jadi kening kita telah ribuan kali menyentuh sajadah, tetapi hati masih sulit merendah. Lisan fasih melafalkan ayat-ayat Allah, tetapi masih mudah melukai sesama. Takbir berkali-kali membesarkan nama Allah, tetapi ego masih terlalu besar untuk mengakui kesalahan. Jika setelah berkali-kali mengucapkan Allahu Akbar seseorang masih merasa dirinya selalu paling benar, sulit menerima kritik, senang merendahkan orang lain, dan merasa lebih mulia karena kedudukan, pendidikan, kekayaan, atau status sosial, mungkin ada pesan takbir yang belum sepenuhnya sampai ke dalam hati.

Rukuk telah menundukkan tubuh, tetapi belum sepenuhnya menundukkan kesombongan. Sujud telah merendahkan kepala, tetapi belum mampu meluruhkan iri dan kebencian. Bahkan salam selalu kita ucapkan ke kanan dan ke kiri, tetapi kehadiran kita belum selalu membawa kedamaian bagi orang-orang di sekitar. Jika demikian, mungkin shalat kita telah selesai secara ritual, tetapi nilai-nilainya belum selesai bekerja dalam kehidupan.

Sebab persoalan shalat bukan hanya tentang seberapa sering kita berdiri di atas sajadah, melainkan seberapa jauh nilai-nilai sajadah tetap hidup setelah kita meninggalkannya. Tangannya terangkat ketika takbir, tetapi tangan yang sama terkadang digunakan untuk menulis kalimat yang merendahkan orang lain. Bibirnya mengucapkan salam ke kanan dan ke kiri, tetapi hatinya masih menyimpan iri, dendam, kebencian, dan prasangka buruk kepada orang lain.

Di sinilah kita perlu bertanya kepada diri sendiri: apakah shalat kita benar-benar telah masuk ke dalam kehidupan, atau selama ini shalat hanya berhenti di atas sajadah? Shalat memiliki fungsi pembentukan jiwa dan pengendalian perilaku. “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.”(QS. Al-‘Ankabut 29: 45).

Ayat ini memberikan pesan yang sangat penting. Shalat memiliki konsekuensi moral. Ia seharusnya menghadirkan daya cegah dalam diri seseorang. Semakin kuat kesadaran seseorang dalam shalat, semakin kuat pula kontrol dirinya ketika berhadapan dengan kemaksiatan, keburukan, ketidakadilan, kebencian, dan tindakan yang merugikan orang lain. Shalat harus bergerak menjadi energi perubahan diri. Salam harus terlihat dalam kedamaian hubungan sosial.

Inilah yang dapat disebut sebagai transformasi nilai shalat. Nilai yang semula diucapkan kemudian diinternalisasi. Nilai yang telah diinternalisasi kemudian menjadi sikap. Sikap yang terus dilatih kemudian menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang konsisten akhirnya membentuk karakter. (Dr KH.Muhammad Soleh Hapudin, M.Si/Ketua Umum MUI Kec. Karawaci)

Muhammad Soleh Hapudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *