Delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka adalah momentum untuk bersyukur sekaligus bermuhasabah. Kita patut bersyukur karena dapat hidup di negeri yang merdeka. Namun kemerdekaan bangsa akan memiliki makna yang lebih dalam ketika kita juga berani memperjuangkan kemerdekaan di dalam diri. Sebab tidak semua penjajahan datang dari luar. Ada penjajahan yang tumbuh diam-diam di dalam hati. Iri membuat kita sulit bersyukur. Dengki membuat kita tidak nyaman melihat kebahagiaan orang lain. Dendam membuat luka masa lalu terus hidup. Kebencian menghilangkan kejernihan berpikir. Kesombongan membuat kita sulit menerima kebenaran.. Karena itu, setelah 81 tahun merayakan kemerdekaan negeri, sudah saatnya kita bertanya dengan jujur: Indonesia telah merdeka, tetapi sudahkah hati kita merdeka? Apakah kemerdekaan itu sudah sampai ke dalam hati kita?
Kemerdekaan sejatinya tidak hanya berbicara tentang terbebasnya sebuah bangsa dari penjajahan, tetapi juga tentang kemampuan manusia membebaskan dirinya dari segala sesuatu yang menguasai hati dan merusak kejernihan jiwa. Kita mungkin hidup di negeri yang merdeka, bebas menentukan pilihan dan menyampaikan pikiran, tetapi belum tentu hati kita benar-benar merdeka. Ada orang yang masih diperbudak oleh iri, dengki, dendam, kebencian, kesombongan, riya, dan keinginan untuk selalu merasa lebih baik daripada orang lain. Penyakit hati seperti ini tidak terlihat, tetapi dapat menghilangkan ketenangan dan merusak hubungan dengan sesama.
Rasulullah SAW mengingatkan, “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh. Jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari dan Muslim). Karena itu, kemerdekaan harus dimulai dari hati. Bangsa yang merdeka membutuhkan manusia yang merdeka, dan manusia yang merdeka adalah manusia yang tidak membiarkan penyakit hati mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatannya.
Salah satu penjajahan hati yang paling halus adalah hasad terhadap nikmat yang Allah berikan kepada orang lain. Hasad membuat seseorang sulit menikmati kebahagiaannya sendiri karena terlalu sibuk membandingkan hidupnya dengan kehidupan orang lain. Ketika orang lain berhasil, hatinya gelisah. Ketika orang lain mendapatkan jabatan, penghargaan, kekayaan, atau kebahagiaan, ia merasa dirinya tersisihkan. Padahal Allah telah mengingatkan, “Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain.” (QS. An-Nisa: 32). Al-Qur’an juga mengajarkan kita memohon perlindungan “dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki” (QS. Al-Falaq: 5). Rasulullah SAW pun mengingatkan agar umatnya tidak saling dengki dan membenci (HR. Bukhari dan Muslim).
Maka merdeka dari hasad berarti belajar menerima bahwa setiap manusia mempunyai bagian rezeki, kesempatan, dan jalan kehidupan yang berbeda. Kebahagiaan orang lain tidak mengurangi kebahagiaan kita, keberhasilan orang lain tidak mengambil jatah keberhasilan kita, dan nikmat yang Allah berikan kepada orang lain bukanlah bukti bahwa Allah mengabaikan kita. Hati mulai merdeka ketika keberhasilan orang lain tidak lagi melahirkan iri, tetapi doa; ketika kelebihan orang lain tidak lagi melahirkan kebencian, tetapi motivasi; dan ketika kekurangan diri tidak lagi melahirkan keluhan, tetapi ikhtiar dan rasa syukur.
Kemerdekaan hati juga berarti membebaskan diri dari dendam dan kebencian, karena keduanya dapat membuat seseorang kehilangan ketenangan. Dendam sering dianggap sebagai cara menghukum orang yang pernah menyakiti kita, padahal dalam banyak keadaan justru orang yang menyimpan dendamlah yang terus membawa luka itu ke mana-mana. Orang yang dibenci mungkin telah melupakan peristiwanya, tetapi kita masih mengingatnya. Ia mungkin hidup dengan tenang, sementara hati kita terus gelisah karena mengulang kesalahannya dalam pikiran. Islam tidak meminta kita membenarkan kezaliman, tetapi Islam mengajarkan agar luka tidak berubah menjadi kebencian yang menghilangkan keadilan. Allah berfirman, “Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8). Allah juga memuji orang-orang yang mampu “menahan amarah dan memaafkan kesalahan orang lain” (QS. Ali ‘Imran: 134).
Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang kuat bukanlah orang yang menang dalam pergulatan, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, memaafkan bukan tanda kelemahan, tetapi tanda bahwa kita tidak lagi memberikan kekuasaan kepada kesalahan orang lain untuk mengendalikan kehidupan kita. Merdeka dari dendam berarti berani melepaskan beban masa lalu tanpa kehilangan pelajaran darinya, sedangkan merdeka dari kebencian berarti tetap mampu berlaku adil sekalipun kepada orang yang tidak kita sukai.
Pada akhirnya, kemerdekaan hati dalam Islam bermuara pada lahirnya qalbun salim, yaitu hati yang bersih dan selamat ketika menghadap Allah SWT. Inilah kemerdekaan yang nilainya melampaui kekayaan, jabatan, popularitas, dan seluruh keberhasilan dunia. Allah SWT berfirman, “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89). Hati yang bersih bukan berarti hati yang tidak pernah marah, kecewa, terluka, atau tergoda oleh iri. Hati yang bersih adalah hati yang selalu mau kembali kepada Allah ketika penyakit itu mulai tumbuh. Ketika iri muncul, ia belajar bersyukur. Ketika dendam datang, ia belajar memaafkan. Ketika sombong tumbuh, ia belajar merendahkan hati. Ketika riya muncul, ia memperbaiki niat. Ketika kebencian datang, ia kembali kepada keadilan. Karena itu Allah mengingatkan, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10).
Maka menyambut HUT ke-81 Republik Indonesia tidak cukup hanya dengan mengibarkan Merah Putih di depan rumah. Kita juga perlu mengibarkan semangat kemerdekaan di dalam diri. Negeri ini telah lama merdeka dari penjajahan, kini tugas kita adalah terus memerdekakan hati dari iri, dengki, dendam, kebencian, kesombongan, dan segala penyakit yang menjauhkan manusia dari Allah dan sesamanya. Sebab kemerdekaan bangsa akan semakin sempurna maknanya ketika manusia yang hidup di dalamnya juga memiliki hati yang merdeka.