Dalam Al-Qur’an, peristiwa Isra diabadikan dalam surah Al-Isra ayat 1: “Subhana alladzi asra bi’abadihi laylan minal masjidil harami ilal masjidil aqsa…”Peristiwa Isra Mi’raj adalah perjalanan luar biasa yang hanya dialami oleh Nabi Muhammad SAW, yang tidak hanya merupakan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan spiritual yang penuh makna. Kata “asra” secara khusus berarti memperjalankan seseorang di malam hari, dengan penekanan bahwa perjalanan itu tidak dilakukan sendiri, melainkan diperjalankan oleh pihak lain. Dalam ayat ini, subjek yang memperjalankan adalah Allah SWT, sedangkan yang diperjalankan adalah Nabi Muhammad SAW
Perjalanan ini dimulai dari Masjidil Haram di Makkah, dilanjutkan ke Masjidil Aqsa di Yerusalem , dan kemudian berlanjut menuju langit yang sangat tinggi dalam perjalanan Mi’raj. Dalam perjalanan ini, Nabi Muhammad SAW tidak hanya berinteraksi dengan nabi-nabi terdahulu, tetapi juga sampai ke Sidratul Muntaha dan Rofrafil Ahdhor, tempat yang sangat tinggi dan mulia di hadapan Allah SWT. Setelah perjalanan Isra dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan Mi’raj, yakni naik ke langit untuk bertemu Allah SWT. Perjalanan ini tidak langsung membawa Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha, melainkan melalui tujuh lapisan langit secara bertahap. Setiap lapisan langit yang dilalui memiliki makna mendalam dan pertemuan penting dengan para nabi yang telah diutus sebelumnya
Di langit pertama, Rasulullah bertemu dengan Nabi Adam AS, Di langit kedua, Rasulullah bertemu dengan Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS, Di lapisan ketiga, Rasulullah bertemu dengan Nabi Yusuf AS, yang dikenal karena ketampanan luar biasa dan kisah hidupnya yang penuh ujian.Di langit keempat, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan Nabi Idris AS, nabi yang diangkat ke tempat yang tinggi oleh Allah.Di lapisan kelima, Rasulullah bertemu dengan Nabi Harun AS, saudara Nabi Musa AS.Di langit keenam, Rasulullah bertemu dengan Nabi Musa AS, nabi yang memiliki perjalanan dakwah penuh tantangan melawan Firaun dan membebaskan Bani Israil. Di langit ketujuh, Rasulullah bertemu dengan Nabi Ibrahim AS, bapak para nabi, yang sedang bersandar di Baitul Ma’mur, tempat para malaikat beribadah.
Perjalanan Isra dimulai pada malam yang penuh berkah, di mana Nabi Muhammad SAW dibawa oleh Malaikat Jibril dengan menunggangi Buraq, seekor binatang yang lebih besar dari keledai namun lebih kecil dari bagal. Dalam sekejap, Nabi Muhammad SAW sampai di Masjidil Aqsa. Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW adalah peristiwa luar biasa yang mencerminkan kekuasaan Allah SWT. Salah satu elemen penting dari perjalanan ini adalah kendaraan bernama Buraq, yang digambarkan sebagai makhluk bercahaya dengan kecepatan luar biasa. Dalam perspektif ilmu pengetahuan modern, khususnya fisika, kecepatan Buraq sering dikaitkan dengan konsep kecepatan cahaya (300.000 km/detik), yang menurut hukum alam adalah batas kecepatan maksimum di alam semesta. Namun, perjalanan Buraq melampaui batasan ini, memberikan wawasan tentang mukjizat ilahi yang berada di luar jangkauan pemahaman manusia.
Perjalanan Buraq dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (sekitar 1.230 km) hanya berlangsung dalam sekejap. Jika dihitung secara fisik, untuk menempuh jarak ini dalam waktu singkat, Buraq harus bergerak dengan kecepatan yang jauh lebih besar dari cahaya. Hal ini tidak hanya berlaku untuk perjalanan horizontal, tetapi juga untuk Mi’raj, yaitu perjalanan vertikal Nabi Muhammad SAW ke tujuh lapisan langit hingga Sidratul Muntaha. Kecepatan luar biasa ini menunjukkan bahwa Buraq bukan sekadar kendaraan biasa, melainkan manifestasi mukjizat ilahi. Allah SWT menciptakan Buraq dengan sifat-sifat yang melampaui hukum alam, menjadikannya alat untuk membawa Nabi Muhammad SAW dalam perjalanan lintas dimensi.
Perjalanan Isra Mi’raj merupakan salah satu mukjizat terbesar dalam sejarah Islam, yang menandai perjalanan Nabi Muhammad SAW yang luar biasa, bukan hanya fisik, tetapi juga spiritual. Setelah menempuh perjalanan Isra dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad SAW melanjutkan perjalanan Mi’raj yang membawa beliau menuju langit yang sangat tinggi, hingga akhirnya mencapai Sidratul Muntaha, tempat paling tinggi yang dapat dicapai oleh seorang nabi.
Isra Miraj adalah salah satu peristiwa luar biasa dalam sejarah Islam yang terjadi pada malam yang penuh keberkahan. Dalam peristiwa ini, Nabi Muhammad SAW diangkat dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina (Isra), lalu dilanjutkan dengan perjalanan ke Sidratul Muntaha di langit ketujuh (Miraj). Perjalanan ini bukan hanya menunjukkan kebesaran Allah SWT, tetapi juga membawa pesan ilahi yang sangat penting bagi umat manusia, yakni perintah shalat lima waktu. Shalat, yang diperintahkan langsung oleh Allah SWT dalam peristiwa Isra Miraj, bukan sekadar ritual ibadah, tetapi sebuah kebutuhan spiritual yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya. Dalam shalat, seorang Muslim diajarkan untuk tunduk sepenuh hati, menyerahkan dirinya kepada Allah SWT, dan memohon petunjuk serta pertolongan-Nya. Perintah ini menegaskan bahwa hubungan manusia dengan Allah adalah inti dari kehidupan seorang Muslim

(Penulis artikel : Dr H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si/ Ketua DPW Forum Silaturahmi Doktor Indonesi (FORSILADI) Provinsi Banten, Dosen Universitas Esa Unggul, Dewan Pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Tangerang, Ketua Litbang Ikatan Doktor Ilmu Pendidikan Republik Indonesia (IDIP-RI)