Redesign Peran Guru: Integrasi Mu’allim, Mu’addib, dan Mudarris dalam Praktik Pedagogik Modern

Peringatan Hari Guru Nasional 25 November 2025 bukan sekadar momentum seremonial, melainkan ruang refleksi bagi seluruh insan pendidikan untuk mengevaluasi kembali arah transformasi pendidikan Indonesia. Di tengah gelombang perubahan yang ditandai oleh digitalisasi, perkembangan kecerdasan buatan, dan tuntutan keterampilan abad-21, peran guru semakin kompleks. Guru tidak hanya dituntut menjadi pengajar, tetapi juga pembimbing, teladan moral, fasilitator pembelajaran mendalam (deep learning), serta agen perubahan sosial.

Dalam khazanah intelektual Islam, sosok guru memiliki tiga dimensi luhur yang menyatu: mu’allim (pendidik ilmu), mu’addib (pendidik adab), dan mudarris (pendidik metode). Ketiga konsep ini bukan sekadar istilah historis, tetapi kerangka filosofis yang dapat memperkaya praktik pedagogik modern. Dengan membaca ulang peran-peran tersebut, guru masa kini dapat kembali pada ruh pendidikan yang memanusiakan, sekaligus responsif terhadap tantangan zaman.

Konsep guru tidak hanya dipahami sebagai penyampai informasi (deliver content), tetapi sebagai figur yang memiliki tiga peran fundamental: mu’allim, mu’addib, dan mudarris. Ketiga peran ini, jika dibaca ulang dan diintegrasikan dengan kebutuhan pembelajaran abad-21, memberikan kerangka pedagogik yang jauh lebih kaya dibanding sekadar pemahaman guru sebagai instructor atau information deliverer.

Dalam tradisi keilmuan Islam, konsep guru tidak hanya dipahami sebagai penyampai informasi, tetapi sebagai figur yang memiliki tiga peran fundamental: mu’allim, mu’addib, dan mudarris. Ketiga peran ini, jika dibaca ulang dan diintegrasikan dengan kebutuhan pembelajaran abad-21, memberikan kerangka pedagogik yang jauh lebih kaya dibanding sekadar pemahaman guru sebagai instructor atau information deliverer.

Dalam prespektif pendidikan Islam,Guru sebagai mu’allim tidak hanya dipahami sebagai seseorang yang memiliki ilmu, tetapi figur yang mampu menyampaikan ilmu secara bear, sistematis, dan dapat dipahami, sehingga terjadi proses tafaqquh (pendalaman ilmu) pada peserta didik. Guru sebagai Mu’addib: Penanam Adab dan Moralitas. Guru sebagai mu’addib berperan menciptakan ekosistem kelas yang beradab, penuh hormat, dialogis, dan mengembangkan kesehatan mental peserta didik.

Peran Guru sebagai Perancang Proses Belajar. Mudarris mengacu pada kemampuan guru dalam mengelola proses pembelajaran melalui pendekatan ilmiah, terstruktur, dan sistematis. Mudarris bukan sekadar penyampai informasi, tetapi learning designer yang mampu memilih strategi, model, dan pendekatan.

Oleh karena itu, guru tidak cukup hanya menjadi mu’allim yang menguasai ilmu, melainkan juga harus menjadi mu’addib yang menjaga moralitas serta mudarris yang mampu mengelola proses pembelajaran secara efektif.

Penulis Dr H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si (Ketua Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten

Muhammad Soleh Hapudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *