Talbiyah sebagai Deklarasi Tauhid

Talbiyah bukanlah sekadar rangkaian lafaz yang diucapkan oleh jamaah haji dan umrah, melainkan ikrar tauhid paling otentik yang pernah diikrarkan manusia secara sadar, terbuka, dan kolektif. Dalam talbiyah, seorang hamba tidak hanya menjawab panggilan Allah, tetapi juga sedang mendefinisikan ulang jati dirinya sebagai makhluk tauhid

Secara bahasa, labbaik berasal dari akar kata labbā yang bermakna memenuhi panggilan dengan penuh kepatuhan, kesungguhan, dan kesiapan total. Ulama bahasa menjelaskan bahwa pengulangan kata labbaik menunjukkan kontinuitas dan keteguhan, seolah seorang hamba berkata, Aku datang memenuhi panggilan-Mu, dan aku akan terus memenuhi panggilan-Mu, wahai Allah.” Dengan demikian, talbiyah bukanlah jawaban sesaat, melainkan ikrar hidup yang berkelanjutan.

Secara teologis, talbiyah adalah jawaban sadar manusia terhadap panggilan Allah yang disampaikan melalui Nabi Ibrahim AS. Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru manusia berhaji, meskipun secara logika manusiawi mustahil suara seorang nabi di lembah tandus dapat menjangkau umat manusia lintas generasi. Namun dalam perspektif tauhid, yang bekerja bukan hukum sebab-akibat duniawi, melainkan kehendak Allah yang melampaui ruang dan waktu. ” Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji…” (QS. Al-Ḥajj [22]: 27)

Setiap jamaah yang mengucapkan “Labbaik Allahumma labbaik” sejatinya sedang berkata: “Aku datang karena Engkau memanggilku, bukan semata karena aku mampu.” Kehadiran kita menuju Baitullaj bukan karena kekuatan kita, bukan karena kecerdasan kita, bukan pula semata karena kemampuan finansial kita. Tetapi karena Allah memanggil kita dan Allah memampukan kita untuk datang.

Kata labbaik memiliki makna yang sangat dalam. Para ulama menjelaskan bahwa kata ini mengandung arti: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu dengan penuh ketaatan.”. Talbiyah bukan hanya pernyataan bahwa kita datang ke Makkah, tetapi juga pengakuan bahwa hidup kita sepenuhnya untuk Allah SWT

Talbiyah mengandung kalimat yang sangat penting:Laa Syarika Laka”: Memurnikan Tauhid. Ini adalah inti dari tauhid. Seorang muslim menyatakan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, ditaati, dan dijadikan tujuan hidup. Talbiyah menegaskan bahwa tidak ada satu pun sekutu bagi Allah—dalam ibadah, niat, tujuan hidup, bahkan dalam pencarian makna dan kebahagiaan.

Pernyataan ini sejalan dengan prinsip tauhid yang ditegaskan dalam Al-Qur’an:”Katakanlah: sesungguhnya salatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya.” (QS. Al-An‘ām: 162–163). Dengan bertalbiyah, seorang hamba sedang menegaskan bahwa orientasi hidupnya bukan lagi ego, dunia, jabatan, atau kepentingan manusia, melainkan Allah sebagai tujuan akhir

Talbiyah juga mengandung kalimat Lebih jauh, menegaskan tauhid dalam aspek kepemilikan dan kekuasaan melalui kalimat “innal hamda wan ni‘mata laka wal mulk”. Segala puji, nikmat, dan kekuasaan mutlak hanyalah milik Allah SWT. Dalam perspektif tauhid, manusia bukan pemilik sejati apa pun, melainkan hanya pemegang Amanah.

Dengan demikian, talbiyah sebagai deklarasi tauhid merupakan inti spiritual ibadah haji: pengakuan total bahwa Allah adalah satu-satunya tujuan, satu-satunya pemilik, dan satu-satunya yang berhak disembah. Talbiyah mengajarkan bahwa puncak kemerdekaan manusia justru terletak pada ketundukan total kepada Allah SWT.

Penulis : Dr H. Muhammad Soleh Hapudin, MSi / Dewan Pimpinan Majelis Ulama (MUI) Kota Tangerang, Ketua DPW Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten

Muhammad Soleh Hapudin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *