Hari Raya Idul Adha tak sekadar peristiwa penyembelihan hewan kurban. Ia adalah panggilan spiritual untuk menyembelih “Ismail” dalam diri kita—yakni segala sesuatu yang kita cintai melebihi cinta kepada Allah. Dalam sejarah, Nabi Ibrahim AS diuji untuk menyembelih putranya, Ismail AS—anak yang lahir setelah penantian panjang, anak yang menjadi penyejuk mata dan harapan masa depan. Namun karena cinta dan kepatuhan kepada Allah lebih tinggi, Ibrahim siap mengorbankan Ismail. Maka, Idul Adha menjadi panggung refleksi: apa “Ismail” dalam hidup kita yang justru menghalangi ketaatan?
Di era modern, “Ismail” kita bukan lagi hanya anak biologis, melainkan juga bentuk-bentuk kecintaan duniawi yang mengalihkan perhatian kita dari Allah—baik berupa harta, jabatan, popularitas, media sosial, bahkan keluarga. Ketika cinta kepada anak membuat kita lupa menegur kesalahan mereka, atau cinta kepada harta membuat kita enggan bersedekah dan berzakat, maka itulah Ismail yang harus dikurbankan: bukan dibinasakan, tapi ditundukkan di bawah cinta kepada Allah SWT .Allah mengingatkan dalam QS. Asy-Syu‘ara: 88–89: “Hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu‘ara: 88–89). Ayat ini menggarisbawahi bahwa pada akhirnya, yang menyelamatkan bukanlah harta atau anak, tetapi hati yang suci dari syirik, dari cinta dunia yang melampaui cinta kepada Allah.
Mengorbankan Ismail bukan berarti memusuhi keluarga, jabatan, atau kekayaan, tetapi memastikan bahwa semua itu tidak menghalangi ketaatan. Ketika karier membuat kita meninggalkan shalat, ketika harta membuat kita bakhil, ketika anak-anak membuat kita menomorduakan Allah, saat itulah “Ismail” kita harus dikorbankan demi membebaskan hati dari perbudakan dunia.
Hari Raya Idul Adha adalah momen spiritual yang mengajak kita merenungi sejauh mana kita siap menundukkan cinta dunia kepada kehendak Ilahi. Allah tidak butuh daging atau darah dari hewan kurban, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Hajj: 37, “Tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” Maka esensi dari berkurban bukanlah ritual semata, tetapi penyembelihan simbolis atas hawa nafsu dan ketergantungan duniawi. Ini adalah revolusi hati, di mana setiap orang bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang selama ini menghalangi saya untuk taat kepada Allah? Apa yang saya takut kehilangan sehingga membuat saya menunda hijrah, malas beribadah, dan berat untuk berbagi? Itulah “Ismail” yang harus dikorbankan
Dalam QS. An-Nur: 37, Allah memuji orang-orang yang sukses menundukkan “Ismail” mereka: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat…” (QS. An-Nur: 37). Inilah potret manusia yang sukses menaklukkan “Ismail” duniawi—sibuk berdagang, tapi hatinya tetap tertambat kepada Allah.
Menggugah Kesadaran Diri: Siapakah Ismail-mu?
Pertanyaan reflektif yang harus kita ajukan: Apa yang selama ini menghalangiku dari taat kepada Allah? Apa yang membuatku berat bersedekah? Apa yang membuatku abai terhadap shalat, malas mengaji, atau takut berhijrah ke jalan Allah? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu menunjukkan siapa atau apa “Ismail” dalam hidup kita. Bisa jadi itu pekerjaan yang kita agungkan, anak yang kita manja, pasangan yang kita takuti kehilangan, atau gaya hidup yang kita banggakan.
Nabi Ibrahim mengajarkan bahwa ketika cinta kepada Allah benar-benar tulus, maka tidak ada cinta lain yang sanggup membelenggu. Itulah hati yang selamat (qalbun salīm)—hati yang telah memutuskan semua rantai dunia demi ikatan langit.
Idul Adha bukanlah rutinitas tahunan menyembelih hewan kurban semata, melainkan momentum revolusi hati. Sebuah titik balik untuk menyadari bahwa Allah tidak butuh darah dan daging kurban kita, tetapi keikhlasan dan ketaatan yang lahir dari lubuk hati.
Sebagaimana firman Allah: “Daging-daging (hewan kurban) itu dan darahnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian…” (QS. Al-Hajj: 37)
Maka, Idul Adha sejatinya adalah ibadah simbolik atas penaklukan hawa nafsu dan dunia, sebagaimana Ibrahim menaklukkan perasaannya sebagai ayah demi ketaatan kepada Rabb-nya. Hari ini, mari kita juga korbankan “Ismail” kita—segala hal yang membuat kita lebih mencintainya daripada mencintai perintah Allah. Saat itulah kurban kita menjadi nyata, bukan sekadar ritual berdarah, tapi jalan menuju qalbun salīm yang akan menyelamatkan di hari tiada guna segala kepemilikan.
Penulis Dr. H. Muhammad Soleh Hapudin, M.Si (Ketua DPW Forum Silaturahmi Doktor Indonesia (FORSILADI) Provinsi Banten/Dosen Universitas Esa Unggul)
Selamat Hari Raya Idul Adha 1446 H.
Mari bertanya dalam hati: Apa “Ismail”-mu yang harus dikurbankan tahun ini?